Shortfic #3: Warna
"Kalau kau bisa menghapus satu warna dari dunia? Warna apa yang akan kau hapus?" Pertanyaanku hanya berselang sekedip mata sebelum suara bising dari kereta menghambur, melintasi jembatan di atas kami. Kulihat Jingga bergeming. Kini kereta sudah setengah jalan menyebrang tepat di atas kepala, namun ia tetap diam. Hampir dibiarkannya pertanyaanku lenyap bersama dengan perginya kereta meninggalkan jembatan. "Mungkin aku akan menghapus jingga." "Kenapa?" Ia tak menjawab. Kami bungkam untuk selang waktu yang cukup lama setelahnya. Lalu ketika matahari sudah bergeser cukup jauh untuk aku sadari, giliran ia yang bertanya. "Biru, ke mana sungai ini berujung?" Ah, ya. Di bawah kami, berjarak mendekati seratus meter, terdapat sungai yang mengalir sebagai batas antara kota kami dan kota tetangga. Sayangnya, mengenai pertanyaan Jingga barusan, aku pun tak punya ide tentang tempat mana yang dijadikan tujuan oleh air-air beserta hal-hal yang iku...