Posts

December 31

Twinkling lights, the strum of guitar and violin. A secret shared and a surge of adrenaline. My heart clung tight to the feeling that night, as we shared our dinner, bathed in soft light. The sour drink you love, I braved a sip too. My eyes capturing each moment close. A black sofa beneath the stairs, our shoulders gently in view. Suddenly, your fingers crafted something anew; a paper ring you slipped onto my finger. The music played on—oh, how my heart wished this would be forever. You gazed at the blue light’s reflection on my face, “Beautiful,” you whispered in the dim-lit space. Fingers brushed softly along my cheek, and your warmth spoke words that got my heart weak. While others rejoiced in their own joyful hue, the year’s end drew near. We celebrated that special night, just me and you, wrapped in love so sincere. – January 01, 2025.

home

I've grown so used to putting myself to sleep  and waking up in the dead of night but you sing me songs even when my eyes are still wide open put a blanket on my cold feet and before I could realize anything, I'm dreaming I'm home

peace

the streetlights don’t seem so blinding anymore as the crowd starts to bustle in more tranquil tones it is at this very moment that I could not but feel the warmth enfolds me I believe it’s your presence and, Love, for all the feelings I could not articulate better with you, I find the peace that only comes with the sense of being known and welcomed  

Shortfic #5: Delman

Image
As we walked down that same path for the hundredth time, I asked, "Do you want me to blow your mind?"  You nodded. The moon was nowhere to be found, so it was streetlights that allowed me to see your slight smile.  "We are basically plain souls painted with the colors of our thoughts as we never quit desiring for beautiful minds," I said. "While every art is supposed to make you feel, as often as not, we long most for overwhelming emotions no matter how devastating."  Memories were floating in the air, cold enough for me to realized that they only returned when the sun has set. Past impressions I almost forgot, persona that never fades, I embraced them all as we walked down that familiar roadside. "And it shall falter, without a doubt," you suddenly began to say, "the fragility of a human mind, how laughable, how unsightly." At that very moment, time was still flying but I found myself stopped among them.

Shortfic #4: Kucing

Image
tanya kucing, untuk berapa bintang ia mainkan melodi malamnya? hal yang laut tahu: kucing, selama matahari masih tidak terjangkaunya, selama itu pula kayu di genggamannya akan terus bernyanyi. laut, kucing, keduanya sama saja luput akan kenyataan bahwa sudah terlalu banyak bintang yang jatuh. di akhir cerita, pertanyaanku tinggal pudar bersama angin malam dan pasir lembut.

Shortfic #3: Warna

"Kalau kau bisa menghapus satu warna dari dunia? Warna apa yang akan kau hapus?" Pertanyaanku hanya berselang sekedip mata sebelum suara bising dari kereta menghambur, melintasi jembatan di atas kami. Kulihat Jingga bergeming. Kini kereta sudah setengah jalan menyebrang tepat di atas kepala, namun ia tetap diam. Hampir dibiarkannya pertanyaanku lenyap bersama dengan perginya kereta meninggalkan jembatan. "Mungkin aku akan menghapus jingga." "Kenapa?" Ia tak menjawab. Kami bungkam untuk selang waktu yang cukup lama setelahnya. Lalu ketika matahari sudah bergeser cukup jauh untuk aku sadari, giliran ia yang bertanya. "Biru, ke mana sungai ini berujung?" Ah, ya. Di bawah kami, berjarak mendekati seratus meter, terdapat sungai yang mengalir sebagai batas antara kota kami dan kota tetangga. Sayangnya, mengenai pertanyaan Jingga barusan, aku pun tak punya ide tentang tempat mana yang dijadikan tujuan oleh air-air beserta hal-hal yang iku...

Shortfic #2: Kabar Burung

Pernah sekali, aku bertanya pada burung tentang hujan—siapa yang ingin ditemuinya sampai ia rela repot-repot jatuh dan menghantam permukaan bumi? Burung itu kemudian menatapku diam, sebelum akhirnya mengabarkanku sebuah kisah. Kisah tentang Mega penghuni langit dan Baruna milik bumi. Bagi Mega, melihat kilau pantulan matahari pada Baruna selalu memukaunya yang berada di ketinggian. Baruna calya di matanya. Hari lalu hari hanya Mega habiskan memandangi dari jarak yang bahkan tak mendekat. Ambak, perasaannya tak pernah menguap, justru mengendap dan semakin memekat. Betapa pun ia ingin menyampaikan perasaannya pada Baruna, ia takkan bisa, untuk bertemu sapa saja ia tak mampu. Terhalang takdir, dirinya tetap tak kunjung selesai dengan keinginan untuk bersatu dengan Baruna yang dikaguminya. Mega tenggelam dalam pilu asa. Hingga semakin lama semuanya meluap. Mega perlahan meneriakkan semua kesahnya yang sudah mengusara. Kesah-kesah, terlalu banyak, mereka semua turun menjadi rintik-rintik ...

Riddle #3: Zara

Namanya Zara, teman sekelasku yang begitu--unik? Aku tak tahu bagaimana harus menyebutnya. Zara duduk di bangku paling belakang, sendirian tanpa teman sebangku. Hal aneh darinya, aku selalu melihatnya di kelas dan tak pernah melihatnya di tempat lain. Entahlah, ia tak selalu ada di sana, hanya setiap aku menemukannya, itu selalu di kelas. Terkadang aku merasa seperti ia tak ada di manapun. Hal yang membuatnya unik adalah wajah datarnya yang bagaimanapun tetap terlihat manis. Ia selalu terlihat tanpa ekspresi. Teman-teman selalu mengacuhkannya, lagipula ia seperti menolak untuk berinteraksi. Aku tak tahu, tapi itu menarik perhatianku. Hari ini menjadi sedikit berbeda karena kami akan pulang sekolah lebih lambat. Seminggu lagi akan diadakan pameran seni dan kelas kami ditunjuk untuk menyiapkan pentas drama. Maka rapat pun diadakan hari ini dan sepertinya akan berlangsung sampai matahari terbenam. Sesuai dugaan, rapat baru selesai pukul enam sore. Hari mulai gelap akan berganti m...

Riddle#2: Cerita Paman

     "Aku datang." Suara decitan pintu terdengar, disusul dengan derapan kaki seseorang yang masuk. Kau tersenyum dan segera bangkit dengan semangat, itu suara yang sangat kaukenali. Pamanmu datang.      "Apa yang kaubawa?" Kau langsung bertanya begitu menemuinya di ruang tamu. Paman menanggapimu dengan senyuman. Kaulihat ia datang hanya dengan kemeja rapi dan tangan kosong. "Aku tak sabar!" katamu lagi.      Paman tampak mengatur ulang gaya duduknya, ia bersiap untuk menghiburmu dengan apa yang akan ia berikan. "Kalau begitu bersiaplah, aku jamin kau tak akan kecewa."      Kau juga mengubah gaya dudukmu, mencondongkan tubuhmu ke arah Paman, dan memasang wajah antusias. Inilah bagian yang paling ditunggu dari kunjungan Paman, yaitu cerita yang dibawanya. Pamanmu adalah seorang detektif polisi yang jenius, dan terakhir kaudengar kabar darinya adalah ia sedang mengerjakan suatu kasus menarik.   ...

Riddle#1: Warna

"ANCAMAN PEMBUNUHAN PADA CALON MENTERI." Kepala koran pagi hari itu begitu menyita perhatian. Hiruk pikuk ramainya kota yang penuh desak bukan lagi permakluman bagi mereka yang haus kabar terkini, tak menghentikan langkah mendekati lapak kecil beralas tikar-gulung milik seorang pria tua untuk sekadar menukarkan uang receh dengan lembaran koran. Mulut demi mulut pun mulai menyuarakan komentar pribadi. Keluhan bahkan cacian akan suatu tindak kriminal tak bermoral, mengutuk siapapun itu yang berdiri di balik layar dengan lancang, mendoakannya agar segera tumbang dan terbekuk. Sudah tujuh hari berlalu sejak terbunuhnya menteri kelautan kami, Guillaume Camelus, yang ditemukan tak bernyawa masih dengan pakaian lengkap setelah pulang dari rapat. Tak ada saksi mata selain kartu nama milik tiga menteri lain, Marco Sipuncula, Georges Limulus, dan Bohmer Hirudinea. tempat kejadian perkara yang membisu di malam hari. Tadi malam pukul sembilan belas, sebuah surat anonim sampai ke kanto...

Simple Riddle #1: Pirate

Today's Riddle Aku ingin mengelilingi Bumi yang bulat pepat ini, dan melakukan petualangan tak berujung. Karena cita-citaku adalah menjadi bajak laut. Yah, kau tahu, aku merasa aku memang terlahir untuk cita-citaku. Bisakah kalian tebak, yang mana tanggal lahirku?  Opsi A : 15 September 1592 Opsi B : 22 Agustus 1592 Opsi C : 14 Maret 1592

Shortfic #1: Bintang

Langit menatapku. Lautan rasi bintang yang indah disuguhkannya, cantik dan gemerlap, membuatku membayangkan bila aku turut berhambur menjadi sama anggunnya; menari bersama bintang-bintang dan bernyanyi sepanjang malam. Penduduk bumi mungkin akan tepukau melihatku. Di balik jendela aku terpaku. Terangnya bulan terus menggoda, membuat rasa yang lama tertahan ini semakin menjadi-jadi. Aku tak tahan, sungguh. Andai aku dapat memilih, aku hanya ingin diciptakan seperti mereka—dapat tak henti memancarkan sinar dengan ringannya. Kala itu juga, bermandikan sinar malam, harap mulai kupanjatkan. Mataku kupejam, untaian doa mengalir dari bibirku yang mengatup kemudian terbuka lalu kembali mengatup, terus begitu dengan teratur. Tuhan, kali ini saja, dengarkan pintaku. Aku hanya ingin terlepas dari dinamika dunia yang melelahkan. Bila Engkau berkenan, dan aku mohon berkenanlah, jadikan aku salah satu dari jutaan bintang di sana. Pagi buta menyapaku. Namun tak kujumpai ranjang ataupun jam dinding ya...