Shortfic #1: Bintang

Langit menatapku. Lautan rasi bintang yang indah disuguhkannya, cantik dan gemerlap, membuatku membayangkan bila aku turut berhambur menjadi sama anggunnya; menari bersama bintang-bintang dan bernyanyi sepanjang malam. Penduduk bumi mungkin akan tepukau melihatku.

Di balik jendela aku terpaku. Terangnya bulan terus menggoda, membuat rasa yang lama tertahan ini semakin menjadi-jadi. Aku tak tahan, sungguh. Andai aku dapat memilih, aku hanya ingin diciptakan seperti mereka—dapat tak henti memancarkan sinar dengan ringannya.

Kala itu juga, bermandikan sinar malam, harap mulai kupanjatkan. Mataku kupejam, untaian doa mengalir dari bibirku yang mengatup kemudian terbuka lalu kembali mengatup, terus begitu dengan teratur. Tuhan, kali ini saja, dengarkan pintaku. Aku hanya ingin terlepas dari dinamika dunia yang melelahkan. Bila Engkau berkenan, dan aku mohon berkenanlah, jadikan aku salah satu dari jutaan bintang di sana.

Pagi buta menyapaku. Namun tak kujumpai ranjang ataupun jam dinding yang selalu kudengar detiknya. Aku hanya menyaksikan daun jendelaku yang terbuka dari ketinggian bermil-mil di angkasa. Tuhan mendengarnya, kini aku sebuah bintang. Bintang yang hanya perlu menunggu hingga waktunya tiba. Waktu di mana aku akan kehilangan cahaya terakhirku dan meledak, menjadi nebula sebagai wujud akhir siklus kehidupan baruku. Atau justru berbenturan dan saling melahap dengan bintang lainnya? Aku tak tahu pasti.

Dan di sinilah aku melihat komet. Mereka berlarian ke sana ke mari dengan lincahnya, seakan tanpa beban. Astaga.


Comments

Popular posts from this blog

Shortfic #2: Kabar Burung

Shortfic #5: Delman

Shortfic #3: Warna