Riddle #3: Zara
Namanya Zara, teman sekelasku yang begitu--unik? Aku tak tahu bagaimana harus menyebutnya. Zara duduk di bangku paling belakang, sendirian tanpa teman sebangku. Hal aneh darinya, aku selalu melihatnya di kelas dan tak pernah melihatnya di tempat lain. Entahlah, ia tak selalu ada di sana, hanya setiap aku menemukannya, itu selalu di kelas. Terkadang aku merasa seperti ia tak ada di manapun.
Hal yang membuatnya unik adalah wajah datarnya yang bagaimanapun tetap terlihat manis. Ia selalu terlihat tanpa ekspresi. Teman-teman selalu mengacuhkannya, lagipula ia seperti menolak untuk berinteraksi. Aku tak tahu, tapi itu menarik perhatianku.
Hari ini menjadi sedikit berbeda karena kami akan pulang sekolah lebih lambat. Seminggu lagi akan diadakan pameran seni dan kelas kami ditunjuk untuk menyiapkan pentas drama. Maka rapat pun diadakan hari ini dan sepertinya akan berlangsung sampai matahari terbenam. Sesuai dugaan, rapat baru selesai pukul enam sore. Hari mulai gelap akan berganti malam, tempat ini juga dirundung hujan. Rasanya semua hal membuatku sangat malas. Jadi, aku akan menetap sebentar di kelas sampai gairahku kembali.
Zara, aku tak melihatnya sepanjang rapat. Bukannya aku khawatir, hanya saja ini membuatku heran. Ternyata ia benar-benar tak memiliki emosi. Bagaimana mungkin ia tak merasa bertanggung jawab atas drama yang akan ditampilkan minggu depan, sampai-sampai mengabaikan rapat penting ini?
Aku menatap ke luar jendela, menembus rapatnya derai hujan di luar sana. Merah melumuri langit yang perlahan berganti ungu kemudian gelap. Aku masih di sini, memandangi pemandangan sekolahku di malam hari. Oh, hei, apa itu Zara? Aku melihatnya melintasi lapangan tanpa payung menerobos hujan. Aku dapat melihat rambut basahnya yang tergerai dengan jelas walau dalam gelap, itu karena Zara membawa sebatang lilin merah di tangannya. Pancaran cahaya kemerahan dari api menerangi wajah manisnya sehingga dapat terlihat jelas olehku. Tapi, apa yang akan ia lakukan dengan lilin itu?
Hujan tak kunjung reda sedangkan hari semakin larut. Aku memutuskan untuk pulang. Cerita kali ini ditutup dengan rasa penasaranku yang semakin meluap. Akhirnya aku melihat Zara di luar kelas, tetapi apa yang dilakukannya saat itu justru menutupi rasa senang akan pencapaian yang sebenarnya tak berguna ini. Entahlah.
Comments
Post a Comment