Riddle#1: Warna
"ANCAMAN PEMBUNUHAN PADA CALON MENTERI."
Kepala koran pagi hari itu begitu menyita perhatian. Hiruk pikuk ramainya kota yang penuh desak bukan lagi permakluman bagi mereka yang haus kabar terkini, tak menghentikan langkah mendekati lapak kecil beralas tikar-gulung milik seorang pria tua untuk sekadar menukarkan uang receh dengan lembaran koran. Mulut demi mulut pun mulai menyuarakan komentar pribadi. Keluhan bahkan cacian akan suatu tindak kriminal tak bermoral, mengutuk siapapun itu yang berdiri di balik layar dengan lancang, mendoakannya agar segera tumbang dan terbekuk.
Sudah tujuh hari berlalu sejak terbunuhnya menteri kelautan kami, Guillaume Camelus, yang ditemukan tak bernyawa masih dengan pakaian lengkap setelah pulang dari rapat. Tak ada saksi mata selain kartu nama milik tiga menteri lain, Marco Sipuncula, Georges Limulus, dan Bohmer Hirudinea. tempat kejadian perkara yang membisu di malam hari.
Tadi malam pukul sembilan belas, sebuah surat anonim sampai ke kantor kepolisian. Di sana tertera:
Si Merah telah aku selesaikan. Selamat datang Biru, Hijau, dan Violet. Selamat memperlengkap permainanku. Besok, saat matahari telah tenggelam di balik tirai cakrawala, kutunggu Biru menemui takdirnya di barisan paling depan.
--
Publik dibuat gempar. Semua orang tak ada yang sempat mengira bahwa pembunuh biadab itu masih mencoba menebar lebih banyak teror.
Pagi itu masih berlanjut. Secangkir kopi yang baru kuseduh mengepulkan uapnya sampai ke hadapan wajahku. Aku sudah menemukan polanya. Kita lihat, dapatkah aku melindungi sang Biru.
Comments
Post a Comment