Riddle#2: Cerita Paman

     "Aku datang." Suara decitan pintu terdengar, disusul dengan derapan kaki seseorang yang masuk. Kau tersenyum dan segera bangkit dengan semangat, itu suara yang sangat kaukenali. Pamanmu datang.

     "Apa yang kaubawa?" Kau langsung bertanya begitu menemuinya di ruang tamu. Paman menanggapimu dengan senyuman. Kaulihat ia datang hanya dengan kemeja rapi dan tangan kosong. "Aku tak sabar!" katamu lagi.

     Paman tampak mengatur ulang gaya duduknya, ia bersiap untuk menghiburmu dengan apa yang akan ia berikan. "Kalau begitu bersiaplah, aku jamin kau tak akan kecewa."

     Kau juga mengubah gaya dudukmu, mencondongkan tubuhmu ke arah Paman, dan memasang wajah antusias. Inilah bagian yang paling ditunggu dari kunjungan Paman, yaitu cerita yang dibawanya. Pamanmu adalah seorang detektif polisi yang jenius, dan terakhir kaudengar kabar darinya adalah ia sedang mengerjakan suatu kasus menarik.

     Paman mulai bercerita, "Ini kasus yang terjadi di sebuah keluarga kecil. Hanya beranggotakan seorang ayah, ibu, dan satu anak lelaki."

     "Kutebak itu pembunuhan."

     "Haha. Kau benar, senjatanya adalah racun. Sang Ayahlah yang menjadi korbannya."

     "Oh, apa yang terjadi?"

     "Sebuah racun yang menyerang jantung. Kali ini adalah jenis racun yang baru akan bereaksi setelah dua jam. Ia diracuni saat makan malam. Tersangkanya adalah istri dan anaknya, mereka makan malam bertiga.

     "Racun ditemukan pada bibir gelas. Siapapun bisa melakukannya, makanya saat itu kami melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kami mewawancarai istri dan anaknya sebagai saksi juga tersangka." 

    "Oh, oh! Katakan apa yang kau dapat!"

     "Menurut kesaksian masing-masing, sang Anak selalu berada di kamarnya sejak makan malam itu, ia melakukan kebiasannya yaitu bermain video game. Itu hobi barunya sejak dua minggu lalu. Sedangkan sang Istri bersama korban di kamar mereka melakukan kesibukan masing-masing seperti biasa dan sekali berciuman."

     Tak butuh waktu lama, kau mengubah gaya dudukmu menjadi lebih santai. Senyuman khas kini terulas di wajahmu. "Aku mendapatkannya."

     "Hahaha, secepat itu. Kau memang hebat seperti biasanya."

     "Jangan memujiku. Aku yakin kau juga sama."

Comments

Popular posts from this blog

Shortfic #2: Kabar Burung

Shortfic #5: Delman

Shortfic #3: Warna