Shortfic #2: Kabar Burung
Pernah sekali, aku bertanya pada burung tentang hujan—siapa yang ingin ditemuinya sampai ia rela repot-repot jatuh dan menghantam permukaan bumi? Burung itu kemudian menatapku diam, sebelum akhirnya mengabarkanku sebuah kisah. Kisah tentang Mega penghuni langit dan Baruna milik bumi.
Bagi Mega, melihat kilau pantulan matahari pada Baruna selalu memukaunya yang berada di ketinggian. Baruna calya di matanya. Hari lalu hari hanya Mega habiskan memandangi dari jarak yang bahkan tak mendekat. Ambak, perasaannya tak pernah menguap, justru mengendap dan semakin memekat.
Betapa pun ia ingin menyampaikan perasaannya pada Baruna, ia takkan bisa, untuk bertemu sapa saja ia tak mampu. Terhalang takdir, dirinya tetap tak kunjung selesai dengan keinginan untuk bersatu dengan Baruna yang dikaguminya. Mega tenggelam dalam pilu asa.
Hingga semakin lama semuanya meluap. Mega perlahan meneriakkan semua kesahnya yang sudah mengusara. Kesah-kesah, terlalu banyak, mereka semua turun menjadi rintik-rintik hujan. Awalnya hujan itu penuh dengan keputus-asaan. Tampak begitu kelabu.
Hal yang tak Mega tahu, rintik-rintik hujan yang menghujam bumi, mengalir ke tempat yang lebih rendah seperti sungai, kemudian berujung pada laut, dan ... Baruna. Betapa bahagianya Mega tak ada yang bisa menggambarkan. Teriakannya yang menguap, kini membias penuh harapan.
Namun langit mengerti, ia pun menyediakan ruang untuk kesedihan-kesedihan Mega yang menguap, dilukiskannya mereka sebagai guratan warna-warna yang cantik, untuknya yang pada akhirnya tersenyum.
Setidaknya itu yang dikabarkan burung padaku. Bahkan saat di ujung hari, cerita itu tetap tak mau beranjak dari benakku. Setelahnya, aku tak pernah lagi menengadah menatap birunya langit tanpa bertanya, "Haruskah aku percaya kabar burung itu?"
Mega itu awan ya? Baruna itu tanah?
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
Delete